Sunday, 16 November 2014

2 Tokoh Militer Menjadi Presiden Indonesia


Penulis : Adi Selamet

Terbit : 16 November 2014

Sumber gambar : en.wikipedia.org
Keterangan : Indonesia

Dalam catatan sejarah, banyak para tokoh militer menjadi para penguasa di negara-negara lain dengan cara kudeta, menggulingkan pemerintahan sebelumnya atau dipilih oleh rakyat agar negara tersebut menjadi lebih baik. Contoh : Muammar al Qaddafi menjadi presiden Libya setelah menggulingkan raja Idris, penguasa yang tunduk kepada Barat. Begitu pula Saddam Husein menjadi presiden Irak setelah menggulingkan presiden sebelumnya. Dan terakhir, pemerintahan presiden Muhammad Mursi dari kalangan Ikhwanul Muslimin digulingkan oleh Jenderal Abdul Fatah al Sissi pada 3 Juli 2013 atas dukungan Arab Saudi, AS, dan Negara-negara Eropa sehingga sang Jenderal menjadi presiden di Mesir meski ribuan orang meninggal.

Banyak orang termasuk saya menganggap orang-orang militer bertubuh dan bermental kuat, dan juga berwibawa. Faktanya memang demikian meski ada beberapa tokoh militer yang tidak tegas. Di Indonesia, Mayor Jenderal Soeharto dan Jenderal Susilo Bambang Yudhoyono adalah 2 tokoh militer yang menjadi presiden. Bagaimanakah pemerintahan mereka ? Berikut ulasan singkat dari saya.

1. Mayor Jenderal Soeharto (1966-1998)




 Keterangan : Presiden Soeharto (1966-1998)

Peralihan kekuasaan dari Presiden Soekarno yang pemerintahannya disebut sebagai Orde Lama (1945-1966) kepada Mayor Jenderal Soeharto yang pemerintahannya disebut sebagai Orde Baru (1966-1998) memulai babak baru sejarah nasional Indonesia. Pasca peristiwa G 30 S (Gerakan 30 September 1965) yang dilakukan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang membunuh para jenderal dan jutaan orang, pemerintahan Presiden Soekarno dilanda kekacauan. Banyak aksi demontrasi para pemuda dan mahasiswa seperti yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) memberi 3 tuntutan yang dikenal dengan Tritura (Tiga Tuntutan Rakyat) yaitu bubarkan PKI, retool Kabinet Dwikora, dan turunkan harga kebutuhan pokok.

11 Maret 1966, Presiden Soekarno mengadakan sidang kabinet paripurna bertujuan mencari jalan keluar dari krisis yang kian memuncak tapi situasi di luar gedung tampak tegang sehingga Presiden Soekarno meninggalkan Jakarta menuju Bogor. Presiden Soekarno memerintahkan Mayor Jenderal Soeharto agar menangani kondisi negara yang tidak stabil melalui Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar). Supersemar sebagai titik awal zaman Orde Baru.

Pembubaran PKI adalah langkah awal agar negara menjadi stabil yang dilakukan Soeharto. Hal ini menyebabkan ribuan orang beretnis Tionghoa memeluk Kristen daripada memeluk agama-agama lainnya. Dalam sidang umum MPRS 1966, Supersemar dijadikan ketetapan (tap) MPRS yang berarti Supersemar tidak dapat dicabut oleh Presiden Soekarno dan bahkan, Soeharto berkedudukan sama dengan Presiden Soekarno sebagai mandataris MPRS secara hukum.

12 Maret 1967, Soeharto diangkat menjadi Pejabat Presiden Republik Indonesia oleh MPRS. 22 Februari 1967 di Gedung Merdeka Jakarta, terjadi penyerahan kekuasaan dari Presiden Soekarno kepada Mayor Jenderal Soeharto mengakhiri pemerintahan Orde Lama. 27 Maret 1968, MPRS melantik Soeharto sebagai presiden selama 5 tahun dan beliau dilantik lagi pada 1973, 1978, 1983, 1993, dan 1998 dengan kebijakannya menggunakan Golongan Karya (Golkar) sebagai kendaraan politiknya. Hanya ada 3 partai sejak Pemilu 1977 dalam pemerintahan Orde Baru yaitu Golkar, Partai Demokrasi Indonesia (gabungan semua partai Kristen dan nasional), dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP = gabungan 4 partai Islam). Pilar utama Orde Baru adalah Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) yang punya 2 fungsi yaitu sebagai kekuatan pertahanan dan keamanan, dan kekuatan sosial dan politik. Anggota ABRI juga menentukan kebijakan politik dengan adanya fraksi ABRI di kursi DPR/MPR. Sejak 1980, ABRI berperan dalam pembangunan desa dengan kebijakan bernama "ABRI Masuk Desa" (AMD) agar dapat dukungan rakyat terhadap militer. Banyak para tokoh militer beragama Kristen yang menduduki pemerintahan daripada para tokoh beragama Islam seperti Jenderal Leonardus Moerdani (Benny Moerdani) sebagai panglima ABRI dan ahli intelijen negara yang menindas Umat Islam, dan koran KOMPAS pun sangat mendukungnya. Namun, ketika Orde Baru memilih para tokoh beragama Islam, Jenderal Moerdani begitu dendam dan bernafsu menghancurkan Orde Baru.

Sebenarnya, Umat Non Muslim tidak ditindas di Indonesia. Hal ini bisa dibuktikan dengan adanya Partai Katolik, Partai Kristen Indonesia (Parkindo), dan partai Murba yang mendapat 10 kursi dalam Pemilu 1973 yang bersaing dengan Golkar (236 kursi), 4 partai Islam (Partai Serikat Islam Indonesia, Partai Nahdlatul Ulama, Partai Islam, dan Partai Muslim Indonesia), partai IPKI, Partai Nasional Indonesia. Pemilu 1977 diikuti 3 kontestan hasil penciutan dari 10 kontestan peserti Pemilu 1971 untuk menghindari perpecahan. 5 Januari 1973, 4 partai Islam yaitu PSII (Partai Serikat Islam Indonesia), Partai Nahdlatul Ulama, Parmusi (Partai Muslim Indonesia), dan Partai Islam melebur menjadi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) diketuai Mintareja, SH. Sedangkan 3 partai Kristen (Partai Kristen Indonesia, Partai Katolik, Partai Murba) dan 2 partai nasional (Partai IPKI dan PNI) melebur dengan nama Partai Demokrasi Indonesia (PDI) pada 11 Januari 1973. Itulah mengapa PDIP (Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan) punya lebih banyak anggota beragama Kristen daripada anggota beragama Islam.

Sejak 1515, Portugal menjajah Timor Timur (sekarang Timor Leste) dengan menyebarkan Katolik dan Presiden Portugal, Jenderal de Spinola berjanji akan menghapus penjajahan. 16 Oktober 1974, Presiden Portugal mengirim delegasi ke Indonesia untuk membicarakan proses dekolonisasi dengan pemerintah Indonesia. Dan, 15 Juni 1976, Timor Leste menjadi provinsi ke-27 melalui Ketetapan DPR di Indonesia dengan gubernur Timor Timur pertama adalah Arnaldo de Reis Araujo (pemimpin partai Apodeti) dan gubernur Timor Timur kedua adalah Mario Vegas Carascalao (pemimpin partai UDT). Namun pada 1999, Timor Timur lepas dari Indonesia berganti nama menjadi Timor Leste membuat ratusan ribu orang meninggalkan Timor Leste menuju wilayah Indonesia, yaitu Kupang dan Atambua. Kini, SDA negara tersebut dikuasai Australia.

Banyak kemajuan dalam pemerintahan Orde Baru seperti pembangunan secara besar-besaran dan transmigrasi dari Pulau Jawa dan Madura ke pulau-pulau yang masih sedikit penduduknya tapi terjadi kasus korupsi dan kesenjangan sosial. Banyak pengusaha beretnis Tionghoa mendapat bantuan dari pemerintah tapi mereka berkhianat dan kabur keluar negeri. Contoh : Eddy Tansil membawa kabur uang Rp. 13 Triliun pada 1992 dan hingga kini, dia tidak terlacak meski keberadaannya dikabarkan ada di Negara China. Mafia Berkeley menduduki jabatan strategis padahal kehadiran mereka hanya menguntungkan asing. Salah satu buktinya, Papua adalah SDA pertama yang dieksploitasi AS melalui Freeport atas persetujuan mereka.

Krisis Asia dimulai di Thailand menghantam Indonesia. Pada akhir Oktober 1997, nilai tukar Rupiah menjadi Rp 4 ribu/US$ hingga Januari 1998, Rp 17 ribu/US$ membuat bursa saham hancur mengakibatkan jutaan pekerja dipecat dari pekerjaan mereka. 4 Mei 1998, IMF (Dana Moneter Internasional) memaksa pemerintah Indonesia untuk menghapus subsidi dan menaikkan harga BBM sehingga menimbulkan berbagai kerusuhan berdarah. Tersiar kabar hoax dalam Tragedi Mei 1998 bahwa ribuan wanita beretnis Tionghoa menjadi korban. 19 Mei 1998, Presiden Soeharto meminta pendapat 9 pemimpin Islam seperti KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Nurcholis Madjid, apakah beliau harus mengundurkan diri ?. Pagi hari, 21 Mei 1998, Presiden Soeharto mundur dari jabatannya secara resmi yang disiarkan oleh semua stasiun tv di Indonesia. Wakil Presiden, B.J. Habibie menggantikan beliau sebagai presiden tapi para pejabat dan media massa menganggapnya sebagai tokoh Orde Lama sehingga harus diganti. Ini bukti bahwa kedekatan beliau dengan mendirikan ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) membuat orang-orang anti Islam meradang. Pasca Orde Baru, Indonesia memasuki era Reformasi.

2. Susilo Bambang Yudhoyono (2004-2014)

 Sumber gambar : kompasiana.com
Keterangan : Presiden SBY

Pemilu 2004, dilaksanakan 3 tahapan yaitu pemilu legislatif (5 April 2004), pemilu presiden putaran I (5 Juli 2004), dan pemilu presiden putaran II (20 September 2004) menghasilkan presiden dan wakil presiden terpilih, Susilo Bambang Yudhoyono dan Muhammad Jusuf Kalla.

26 Desember 2004, gempa bumi dan tsunami terparah di dunia terjadi di Aceh, Sri Lanka, India, dan Thailand dengan korban meninggal sekitar 167 ribu orang. Berbagai bencana mengerikan pun terjadi sebagai ujian bagi Indonesia. Melalui KPK, pemberantasan lebih garang tapi tampaknya, para koruptor masih banyak karena penegakan hukum belum adil. Pemerintah disulitkan oleh para pemberontak Kristen seperti OPM (Operasi Papua Merdeka) dan RMS (Republik Maluku Selatan). 2012, kantor resmi OPM berdiri di Inggris sebagai bukti dukungan Inggris pada 'kemerdekaan' Papua setelah Kerajaan Inggris memberikan gelar kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Wakil presiden, Jusuf Kalla berinisiatif untuk melaksanakan konversi minyak tanah ke gas sebagai solusi bagi rakyat untuk meninggalkan minyak tanah dan beralih ke gas yang lebih terjangkau. Masyarakat yang tidak mampu diberi 1 paket kompor dan tabung gas 3 KG di seluruh Indonesia secara gratis.

28 partai politik nasional dan 6 partai politik lokal Aceh mengikuti Pemilu pada 8 Juli 2009 dan pemilu presiden diikuti oleh 3 pasangan calon yaitu Megawati Soekarnoputri dan Prabowo Subianto, Susilo Bambang Yudhoyono dan Boediono, dan Muhammad Jusuf Kalla dan Wiranto yang dimenangkan oleh Susilo Bambang Yudhoyono dan Boediono. Mereka dilantik pada 20 Oktober 2009 yang berusaha agar Indonesia lepas dari jeratan IMF dan World Bank. Selama 10 tahun pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Megawati Soekarnoputri dan PDIP sangat suka mengkritik pemerintahannya. 5 tahun kemudian bertepatan dengan Senin, 20 Oktober 2014, Joko Widodo dan Muhammad Jusuf Kalla resmi dilantik untuk menggantikan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dan Boediono. Apakah pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla mampu lebih baik daripada pemerintahan sebelum mereka ? Semoga saja.

Sumber Referensi :

¤ Buku Advanced Learning History 3 for Grade XII Senior High School Natural Science Programme oleh Nana Supriatna diterbitkan oleh Fácil, Grafindo Media Pratama (2012), anggota IKAPI
¤ dan lain-lain

Thursday, 13 November 2014

Ganjaran Bagi Pengkhianat

Penulis : Adi Selamet

Terbit : 13 November 2014

 Sumber gambar : britannica.com

Keterangan : Konsili Clermont, Paus Urbanus II berkotbah dan terdengar teriakan "Deus Vult!" (Tuhan menghendaki)

Ketika terjadi Perang Salib III (1187-1191), pasukan Salib pimpinan Raja dari Inggris, Richard si Hati Singa yang sangat kejam menyerbu tanah Arab sedangkan pasukan Islam dipimpin oleh Sultan Shalahuddin al Ayyubi era Khalifah an-Nashir (1180-1225) dari Kekhalifahan Abbasiyah (750-1258) di Baghdad.

Dalam suatu penyerbuan yang licik, beberapa tentara Islam terjebak. Semua tentara Islam terbunuh kecuali 3 orang. Mereka ditangkap dan dihadapkan kepada Richard si Hati Singa.

"Kalian akan dihukum mati !", teriak sang raja tapi 3 tentara Islam hanya diam seperti tidak gentar menghadapi gertakan itu. Dua dari mereka berusia separuh umur, dan seorang lagi masih terlihat muda. "Tinggal pilih, kalian ingin mati dengan cara bagaimana ? Digantung, disalib, atau dipancung !", kata sang raja lagi.

Sumber gambar : aboutislam.net
Keterangan : Sultan Shalahudin al-Ayyubi

Kedua tentara itu yang berusia sedikit tua itu menjadi ketakutan mendengar ancaman hukuman yang tampak tidak main-main. Wajah mereka kelihatan pucat, tubuh mereka gemetar, dan lunglai bertumpu di atas lutut mereka sendiri sedangkan seorang lagi yang masih muda tampak tenang.

"Namun semua dapat diatur, " lanjut Richard si Hati Singa. "Masih ada jalan untuk selamat bagi diri kalian. Kalian akan kubebaskan dan kuberi kesenangan dan harta kekayaan tapi dengan syarat agar kalian harus memeluk agama kami (Murtad, maksudnya) dan menjadi mata-mata tentara kami !".

"Hai anak muda !", teriak Richard si Hati Singa kepada tentara Islam yang masih muda itu. "Bagaimana dengan dirimu ? Menuruti kehendak kami dengan imbalan kesenangan dan kekayaan, atau mati ?".

Meski kedua tangannya terbelenggu erat, sang pemuda hanya menatap Panglima Kristen itu dan mulutnya mengucap "Allahu Akbar !". Sikap pemuda itu membuat Richard si Hati Singa murka. Dengan berteriak, ia memanggil algojonya. "Bangsat ! Seret dia keluar dan cincang tubuhnya !".

Sang algojo yang bertubuh besar dan tinggi menyeret pemuda Islam yang tidak berdaya itu keluar. Dia memasukkan sang pemuda ke dalam tong kayu yang telah dipasangi paku didalamnya. Lalu, tong itu ditutup sangat rapat dan digulingkan dari atas bukit oleh sang algojo. Kedua kawannya dipaksa untuk menyaksikan hukuman mati bagi sang pemuda.

Ketika tong yang berisi pemuda itu sampai di dasar bukit dan dibuka. Kedua kawannya memekik ngeri melihat keadaan pemuda itu. Seluruh tubuhnya bersimbah darah dengan luka bagai dicabik-cabik.

"Apa kalian sudah melihat nasib kawan kalian itu?" tanya Richard si Hati Singa kepada 2 tentara Islam yang telah dihadapkan kepadanya. "Kau ingin nasib seperti dia atau memilih kehidupan yang mulia ?".

Sumber gambar : allthetropes.wikia.com
Keterangan : Richard the Lion Heart


"Saya ingin hidup mulia", kata salah satu tentara Islam yang sedikit lebih tua. "Bagus ! Jadi, kau mau menuruti permintaanku ? Mau menjadi mata-mata kami ?".

"Tidak !" kata seorang tentara Islam yang sedikit lebih tua. "Lalu apa maksudmu ?", teriak Richard si Hati Singa. "Aku ingin hidup mulia si sisi Allah. Allahu Akbar !".

"Tua bangka kurang ajar ! Kau lihat saja nanti !", ejek Richard si Hati Singa dengan mata berapi-api. "Dan kau yang satunya lagi. Bagaimana dengan keputusanmu ?".

Tentara Islam yang berumur agak muda dengan gemetar dan badannya membungkuk-bungkuk ketakutan maju di hadapan Richard si Hati Singa. "Saya... Saya mohon ampun, Tuanku. Saya... Saya akan menuruti kehendak Tuanku...".

"Hahaha... bagus, bagus....", Richard si Hati Singa tertawa seraya memilin-milin kumisnya. "Artinya, kau mau memeluk agama kami dan menjadi mata-mata tentara kami ?".

"Benar, tuanku. Saya sebenarnya memeluk Islam hanya ikut-ikutan saja. Saya berperang membela Islam juga karena dipaksa !".

"Betul demikian ?"

"Betul, Tuan"

Hati Richard si Hati Singa sangat girang mendengar jawaban itu dan ia berteriak, "Hai pengawal. Beri dia pakaian yang bagus dan mulai sekarang, aku angkat dia sebagai mata-mata kita". Pengawal itu berkata, "Ampun, raja. Sebelum dia diangkat menjadi bagian dari tentara kita, apakah tidak lebih baik kita uji kesetiaannya?".
"Apa maksudmu ?"


"Dia harus berani membunuh kawannya sendiri untuk menguji kesetiaanya kepada kita".

"Hamba bersedia, tuanku. Hamba bersedia melakukannya !", kata tentara Islam yang khianat itu. Maka pengawal itu melepaskan ikatannya dan memberinya sebilah pedang. Dengan mata menjijikkan, pengkhianat itu mengambil pedang yang disodorkan kepadanya dan dengan cepat, dia menghujamkan ke perut kawannya sendiri, dan diulanginya berkali-kali. Kawannya pun syahid dengan memekik, "Allahu Akbar !".

Pengkhianat itu tertawa sinis di hadapan Richard si Hati Singa. "Percayakah tuanku sekarang ? Dan hamba kini menyatakan diri untuk menjadi pengikut tuan". Richard si Hati Singa mengangguk-angguk, kemudian tertawa puas. "Pengawal, ajak dia ke tempat perjamuan dan perlakukan dia dengan baik !".

"Sebentar tuanku", sahut pengawal itu. "Tidak sepatutnya orang ini diberi penghormatan seperti itu". Pengkhianat itu menjadi kaget mendengar ucapan itu.

"Apa maksudmu ?" tanya Richard si Hati Singa. "Bukankah dia telah melakukan tugasnya dengan baik ?".

"Justru karena itulah kita harus berhati-hati, tuanku", jawab pengawal itu. "Terhadap kawannya sendiri yang telah bergaul cukup lama, dia tega berbuat kejam. Apalagi terhadap kita yang baru dikenalnya. Hamba yakin suatu saat dia pun pasti akan mengkhianati kita". Ucapannya membuat Richard si Hati Singa mengkerutkan alisnya dan mengangguk-angguk.

"Ampun tuanku... Hamba sekali-kali tidak akan berani melakukan itu...", ratap pengkhianat itu.

"Tuanku, raja...", kata pengawal itu itu lagi. "Sifat khianat adalah sifat terlaknat. Kalau suatu hari dia melarikan diri dan memberitahu semua keadaan serta pertahanan kita kepada tentara Islam, apakah kita tidak akan hancur ?".

"Lalu apa yang harus kita lakukan terhadap orang ini ?" tanya Richard si Hati Singa.

"Hukum dia dengan kejam melebihi kematian 2 sahabatnya yang ksatria itu".

"Algojo !" teriak sang raja. "Masukkan pengkhianat ini ke dalam kandang singa !".

Dengan meraung-raung minta ampun, pengkhianat itu diseret ke kandang singa. Dia menangis dan meratap untuk diampuni tapi Richard si Hati Singa tidak memperdulikannya. Sebentar kemudian terdengar raungan singa yang diiringi jeritan memilukan. Tubuh pengkhianat itu dicabik-cabik oleh singa yang tampak sangat kelaparan. Dia sengsara di dunia dan di akhirat...

Sunday, 12 October 2014

Sejarah Islam di Hongaria

Penulis : Adi Selamet

Terbit : 12 Oktober 2014

Allah Ta'ala berfirman,

كَذَٰلِكَ أَرْسَلْنَاكَ فِي أُمَّةٍ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهَا أُمَمٌ لِتَتْلُوَ عَلَيْهِمُ الَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَهُمْ يَكْفُرُونَ بِالرَّحْمَٰنِ ۚ قُلْ هُوَ رَبِّي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ مَتَابِ


Artinya :

"Demikianlah, Kami telah mengutus kamu pada suatu umat yang sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumnya, supaya kamu membacakan kepada mereka (Al Quran) yang Kami wahyukan kepadamu, padahal mereka kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Katakanlah: "Dialah Tuhanku tidak ada Tuhan selain Dia; hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya aku bertaubat" [QS. Ar-Ra'd : 30]

Hongaria beribukota di Budapest adalah sebuah negara yang terletak di Eropa Tengah. Negara ini berbatasan dengan Austria di barat, Slowakia di utara, Ukraina di timur, Rumania di tenggara, Kroasia dan Serbia di selatan, dan Slovenia di barat daya. Negara ini seluas 93,030 km persegi yang dihuni oleh hampir 10 juta jiwa.

 Sumber gambar : operationworld.org
keterangan : Letak Hongaria

Dalam bahasa setempat, Hongaria disebut sebagai Magyarorszag (daerah Magyar).

Berdasarkan Perjanjian Trianon (1920) pasca Perang Dunia I (1914-1918), Hongaria kehilangan sekitar 71% wilayah, 58% penduduk, dan 32% etnis Hongaria karena berada di pihak Blok Poros (Central Powers) bersama Kekaisaran Jerman, Kekaisaran Austria-Hongaria (1867-1918), Kesultanan Turki Utsmaniyah (1299-1923), dan Kerajaan Bulgaria yang dikalahkan oleh Blok Sekutu (Entente powers) yang dipimpin oleh Inggris, Perancis, dan Kekaisaran Rusia (1721-1917).

Asal Usul

Umat Islam di Cekungan Carpathian, Syrmia dan Drava, sungai Danube, Nyitra (Slovakia) Hongaria berasal dari Volga Bulgaria dan Khwaresm dan berasimilasi dengan Suku Magyar yang terlibat dalam perdagangan dan mampu menyewa beberapa properti milik Kerajaan Homgaria, dan menjadi tentara bayaran di Kerajaan Hongaria (1000-1918) yang datang pada sekitar abad ke-9 Masehi. Mereka disebut sebagai Boszormeny (Maghrebians atau orang-orang Afrika Utara), Izmaelita (Hysmaelita/Ismael) dan Scerecsen (Saracen).

Sejarawan Arab dan ahli geografi, al-Mas'udi mencatat pada abad ke-10 banyak orang-orang asli Magyar masuk Islam. Al-Bakri menyebutkan orang-orang Magyar menebus Umat Islam yang ditangkap di negara-negara tetangga. Pada abad ke-10, Ibrahim bin Yaqub, pedagang Muslim tiba di Praha, wilayah Magyar. 

Menurut the Gesta Hungarorism mencatat Umat Islam dari Volga Bulgaria pada era Taksony, Grand Prince of Magyar (955-sebelum 972) dan menetap di Cekungan Carpathian. Selama 3 tahun (1150-1153), Abu Hamid al Garnati (asal Andalusia = Spanyol) bekerja di Kerajaan Hongaria yang dipercaya oleh raja Geza II untuk merekrut tentara dari kalangan Muslim di Cekungan Carpathian.

John Kinnamos (sejarawan Bizantium) menyebutkan bahwa tentara Muslim membela Kerajaan Hongaria melawan Kekaisaran Bizantium (330-1453) era Kaisar Manuel I Komnenos pada 1165 sedangkan menurut Yaqub al Hamani (Ahli Geografi asal Arab) menyebutkan para mahasiswa Muslim dari Hongaria belajar di Aleppo, Suriah pada awal abad ke-13 yang menyatakan bahwa ada 30 desa Muslim di sana yang fasih berbicara bahasa Hongaria.

Yaqub al Hamani (575-626 H/1179-1229) menulis dalam kamus geografi terkenal "Mu'ajam al Bundan" tentang pertemuannya dengan seorang mahasiswa Muslim Hongaria yang belajar di Aleppo, Suriah yang membawa rincian sejarah dan kehidupan Umat Islam di Hongaria.

Ditindas dan Lenyap

* Paruh kedua abad ke-11, Kerajaan Hongaria era raja Ladislaus I memaksa Umat Islam untuk memeluk Kristen

* Raja Colomon memaksa Umat Islam untuk membangun dan membiayai gereja, makan daging babi, memeluk Kristen, menikahkan para putri muslim dengan orang-orang Kristen, dan melarang pernikahan sesama Muslim termasuk agar tamu yang berkunjung ke rumah Muslim harus makan daging babi. Jika dilanggar, maka Muslim akan dibunuh.

* Raja Geza II (1141-1162) mengizinkan Umat Islam asli Hongaria untuk mempraktekan aktivitas ibadah secara rahasia kecuali Umat Islam dari Afrika Utara berdasarkan saran dari Abu Hamid al Garnati

* 3 Maret 1231, Paus Gregorius IX memerintahkan seluruh Uskup kerajaan untuk melawan perintah raja tapi raja Andrew II masih memperkerjakan Umat Islam

* 25 Februari 1231, Robert dari Esztergom (Uskup Agung) mengucilkan Kerajaan Hongaria dan para bangsawan tapi kemudian Paus Gregorius IX dan raja Andrew II mencapai kesepakatan pada 20 agustus 1233 di Bereg sehingga Umat Islam dan Yahudi harus memakai kain khusus. Kesepakatan ini tidak semua dilakukan oleh raja Andrew II karena keberadaan Umat Islam mempengaruhi kemakmuran Hongaria.

* 10 Desember 1239, Paus Gregorius IX mengangkat Bela IV sebagai raja di Hongaria.

* Banyak orang-orang asli Magyar yang masuk Islam sehingga jumlah Muslim meningkat drastis daripada jumlah kelahiran keluarga Muslim di Hongaria membuat Paus Gregorius IX khawatir. Undang-undang yang mendiskriminasi Umat Non Kristen disebut sebagai Sinode Szabotcs  dinyatakan oleh Saint Ladislaus dan raja Colomon atas perintah Gereja Katolik.

Paska serangan pasukan Mongolia (1241-1242), tidak ada referensi tentang kabar keberadaan Umat Islam di Hongaria tapi raja Ladislaus IV menunjuk seorang Murtadin, Mizse sebagai pegawai di kantor Platine pada 1290. Kemungkinan besar banyak Muslim yang murtad, dibunuh, dijadikan budak, dan akhirnya, bermigrasi ke tempat-tempat yang aman. Sekarang, Boszormeny sebagai nama keluarga Muslim yang hidup di Hongaria khususnya di kota Hajduboszormeny.

Pemerintahan Utsmaniyah pada 1541-1699

Raja Vladislaus II (1490-1516), raja dari Bohemia diangkat sebagai raja di Hongaria oleh para bangsawan sebagai raja boneka dan memberikan perkebunan dan tanah yang luas kepada para bangsawan sehingga menindas para petani menyebabkan pemberontakan petani besar pimpinan Gyorgy Dozsa pada 1514.

Pada 1521, Sultan Sulaiman I (1520-1566) berhasil menaklukan Belgrade setelah merebut benteng Hongaria terkuat di selatan (Nandorfehervar). Sultan Sulaiman I bersama pasukannya berhasil mengalahkan pasukan Kerajaan Hongaria pimpinan Raja Lois II Jagiellon yang dibantu oleh pasukan Kerajaan Kroasia, Mahkota Bohemia, Bavaria, Kepausan Serikat, kerajaan Polandia, dan  Kekaisaran Romawi Suci dalam pertempuran Mohacs pada 29 Agustus 1526.

 Sumber gambar : en.wikipedia.org
Keterangan : Lois II Jagiellon, raja terakhir Hongaria

Kemenangan itu mempercepat penaklukan Hongaria Namun mereka gagal menaklukan Kota Wina, ibukota Kekaisaran Romawi Suci pada 1529 karena musim dingin dan dipukul mundur oleh Kekaisaran Romawi Suci (962-1806) yang dibantu oleh kerajaan-kerajaan Kristen atas perintah Paus di Roma.

Paska Pertempuran Mohacs, ada 2 calon raja yaitu John Zapolya (1526) dari Hongaria dan Ferdinant I (1527) dari Dinasti Habsburg, Austria menyebabkan kekacauan politik di Hongaria. 1541, Kesultanan Turki Utsmaniyah mulai memerintah setelah menaklukan Kota Buda tanpa perlawanan dan membagi 5 vilayet (provinsi) yaitu Buda, Kanije, Egri, Varad (Oraden), dan Temesvar dan memberi kedaulatan bagi Hongaria timur bernama Kerajaan Transylvania (sebelumnya, Hongaria Timur Raya) dan Kerajaan Hongaria untuk memerintah sedangkan barat dan utara Hongaria bernama Royal Hongaria (1538-1864) dikuasai Dinasti Habsburg.

Pada abad ke-16, banyak tokoh Muslim Hongaria yang lahir seperti Kanijeli Siyavus Pasha (dari Nagyakanizsa) sebagai Wazir Agung (Perdana Menteri) pada tahun antara 1582 dan 1593, darwis Mevlevian, Pecsevi arifi Ahmed Dede asal Turki di Pecs. Sebagian besar studi Islam di Hongaria mengajarkan madzhab Hanafi atau sekolah Islam Sunni meski ada beberapa orang Syiah. Sekitar belasan ribu tentara Kesultanan Turki Utsmaniyah menjaga keamanan penduduk.

 Sumber gambar : en.wikipedia.org
Keterangan : Sultan Sulaiman I sang penakluk Hongaria

Pemerintahan Kesultanan Turki Utsmaniyah terkenal sebagai pemerintahan yang toleran dan tidak pernah memaksa Umat non Muslim untuk memeluk Islam sebagai agama mereka. Setiap umat beragama dijamin kebebasan untuk beribadah. Di bawah pemerintahan Kesultanan Turki Utsmaniyah, Budapest menjadi puast administrasi dan tumbuh menjadi kota masyarakat madani yang dihuni oleh Umat Islam, Umat kristen, Umat yahudi, dan Umat Gypsie.

Selama abad ke-17, jumlah penduduk Hongaria yang dikuasai oleh Kesultanan Turki Utsmaniyah bertambah menjadi sekitar 900 ribu hingga 1 juta orang.

Sejak dikuasai Kesultanan Turki Utsmaniyah,  Hongaria bisa mengekspor 500 ribu sapi yang memanfaatkan padang rumput Hortobagy (padang rumput alami terbesar di Eropa) dan berbagai jenis sayuran dan buah-buahan khususnya buah anggur ke negara-negara Eropa, penduduk pun sejahtera. Tidak sedikit pula orang-orang Hongaria menerima Islam sebagai agama mereka.

Pasukan Kesultanan Turki Utsmaniyah pimpinan Kara Mustafa Pasha era Sultan Mehmed IV (1648-1687) gagal menaklukan Kota Wina lagi pada 1683 karena dipukul mundur oleh pasukan gabungan Polandia dan Kekaisaran Romawi Suci pimpinan John III Sobieski membuat kekuasaan Kesultanan Turki Utsmaniyah melemah di Hongaria. Berdasarkan Perjanjian Karlowitz (1699), Kesultanan Turki Utsmaniyah era Sultan Mustafa II (1695-1703) harus menyerahkan Hongaria kepada Dinasti Habsburg yang memerintah Kekaisaran Romawi Suci.

Peninggalan-peninggalan Islam

Pemerintahan Kesultanan Turki Utsmaniyah membangun banyak Masjid dan gereja, jembatan, jalan, air mancur, perpustakaan, tempat mandi, dan ratusan sekolah. Kesultanan Turki Utsmaniyah berperan juga memperkenalkan Turkish Baths (tempat mandi ala Turki) dan Rudas Baths.

Tak kurang dari 75 hammams (tempat mandi uap) dibangun selama pemerintahan Kesultanan Turki Utsmaniyah. Pendidikan diwajibkan bagi semua penduduk tanpa dipungut biaya. Pembangunan dan pemeliharaan Masjid dan gereja ditanggung oleh pemerintah Kesultanan Turki Utsmaniyah dan badan amal Kesultanan Turki Utsmaniyah.

Namun setelah pemerintahan Kesultanan Turki Utsmaniyah bubar di Hongaria, semua peninggalannya dihancurkan dan banyak Masjid yang diubah menjadi gereja seperti Masjid Pasha Qasim di Pecs dan Masjid Sejh Ali Dede, dan Masjid Jacovali Hassa Pasha oleh Kekaisaran Romawi Suci untuk menghapus jejak Islam.

 Sumber gambar : http://visitbudapest.travel
Keterangan : Makam Gul Baba di budapest, Hongaria

Hanya menyisakan pemakaman Gul Baba (Bapak Mawar dalam bahasa Turki), seorang ulama Sufi asal Turki yang berjasa dalam penanaman bunga mawar di Hongaria selama hidupnya sehingga di sekitar makamnya masih banyak bunga mawar yang tumbuh dan indah di Rozsadom (Bukit Mawar). Kekaisaran Romawi Suci memaksa Umat Islam untuk memeluk Katolik atau diusir dari Hongaria.

Abad ke-19 dan 20

Setelah Revolusi 1848-1849, 6 ribu orang Polandia dan Hongaria dipimpin oleh Jenderal Josef Bem termasuk perwira Hongaria, Richard Guyon (Kurshid Pasha), Gyorgy Kmety (Ismail Pasha), dan Maximilien stein (Ferhad Pasha) meminta perlindungan kepada Kesultanan Turki Utsmaniyah.

Menurut Kamus Biografi Nasional Oxford,  Richard Guyon dinyatakan sebagai orang Kristen pertama yang mendapat pangkat Pasha dan komando militer Turki tanpa harus masuk Islam yang berasal dari Hongaria. Sejak 1920, hukum yang berlaku di Hongaria menyatakan semua bangunan ibadah agama apa pun disebut sebagai gereja. Hongaria pernah menjadi tempat pembantaian terhadap Umat Islam oleh Serbia pada 1990-an.

Abad ke-21

2000, sebuah Masjid dibangun di Hongaria dengan nama Gereja Lingkungan Paradoks Islam (MME). Szultan Sulok, pemimpin organisasi Muslim memperkirakan ada 3200 Muslim di Budapest. Dewan di Ujbuda telah mengizinkan bagi masyarakat Muslim di Hongaria untuk membangun pusat Islam pertama di Budapest dengan perpustakaan yang berisi 50 ribu volume buku.

12 Juli 2011, Hongaria hanya mengakui 14 kelompok agama berdasarkan undang-undang "Hak Kebebasan Hati Nurani dan Agama, Gereja, Agama, dan Komunitas Agama" dan Islam tidak dimasukkan dalam daftar tapi pada 27 Februari 2012, parlemen Hongaria mengubah undang-undang yang kontroversial ini.

Sumber gambar : https://www.facebook.com/pg/Magyarorsz%C3%A1gi-Muszlimok-Egyh%C3%A1za-Organization-of-Muslims-in-Hungary-138533786214283/about/
Keterangan : Organisasi Muslim Hongaria ini dibangun sejak 1987



Menurut sensus 2011, ada 5579 Muslim atau 0.056% dari total penduduk Hongaria yang beretnis Hongaria dan Arab tapi menurut Magyarorszagi Muszlimok Egyhaza (Organisasi Muslim Hongaria), ada 32 ribu Muslim (0.3%) di Hongaria. 2013, Umat Islam di Hongaria mengangkat 2 ulama yaitu Herzegovina dan Husein Kavazovi (pemimpin Muslim di Bosnia), dan juga, Umat Islam di Hongaria punya hubungan dengan Umat Islam di Bosnia yang tergabung dalam the Hungarian Islamic Community diketuai oleh Zoltan Boluk.