Saturday, 9 November 2013

Kesultanan Mataram



ألحمدالله, kita masih hidup sehingga kita dapat melakukan berbagai kegiatan yang semoga bermanfaat dan tak merugikan siapa pun... Dalam kesempatan ini, Adi ingin berbagi informasi seputar Kesultanan Mataram, silakan simak....
Kesultanan Mataram dirintis oleh Kyai Ageng Pamanahan dan dilanjutkan oleh putranya, Raden Sutawijaya (bergelar Panembahan Senopati). Panembahan Senopati dianggap sebagai pendiri kesultanan yang sebenarnya yang bercita-cita membangun kesultanan yang kuat dan jaya, menyatukan wilayah Pulau Jawa dalam kekuasaannya. Mas Jolang memerintah kesultanan dari tahun 1601 sampai tahun 1613 dengan melanjutkan cita-cita ayahnya, Panembahan Senopati yang wafat pada 1601 Masehi. Ia harus menghadapi berbagai pemberontakan yang ingin memisahkan diri dari kekuasaan Kesultanan Mataram. Demak, Ponorogo, dan Gresik dapat ditaklukannya. Namun, beliau gugur di Krapyak saat menaklukan Surabaya sehingga beliau dijuluki Panembahan Seda ing Krapyak.
Pengganti Mas Jolang adalah Raden Mas Ransang (1613-1645) yang terkenal sebagai seorang sultan yang pandai memerintah sehingga beliau dijuluki Sultan Agung. Selama beliau memerintah, Kesultanan Mataram mencapai puncak keemasan. Seluruh Pulau Jawa dapat dikuasai kecuali Kesultanan Banten yang beribukota di Kota Surosowan. Bahkan, pengaruhnya dapat tertanam di Sukadana (Kalimantan).

Gambar : Sultan Agung dari Mataram

Kehidupan ekonomi kesultanan ini berjalan cukup maju. Hasil buminya adalah beras yang laku di pasaran dunia. Rakyatnya hidup makmur dan aman dan mampu membiayai perang, menaklukan daerah-daerah lain dan membangun armada yang kuat. Kehidupan sosial rakyat dan pemerintahan dipengaruhi oleh Agama Islam dan Budaya Islam. Para sultan dikenal sebagai pemeluk Islam yang taat. Tak heran, penguasa Kota Suci Mekah memberikan gelar Sultan Abdullah Muhammad Maulana Mataram pada Sultan Agung. Di zaman pemerintahannya, beliau menciptakan Kalender Jawa yang menyatukan Kalender Hijriah (Islam) dengan Kalender Saka (Hindu) berdasarkan putaran bulan pada bumi dan sampai detik ini, Kalender Jawa ini masih dipakai oleh penduduk Jawa.
Benarlah firman Allah bahwa penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa pasti Allah akan melimpahkan berkah yang tak terkira dari langit dan bumi. Sebagaimana firman-Nya, "Jika penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi" [QS. Al A'araf (7) : 96].

Gambar : Wilayah Kesultanan Mataram di zaman Sultan Agung dikutip dari http://en.wikipedia.org/wiki/Mataram_Sultanate

Sultan Agung sangat membenci penjajahan sehingga beliau memimpin pasukan menyerang VOC di Batavia (Nama Jakarta ala Belanda) sebanyak 2 kali yaitu pada 1628 dan 1629. Dalam serangan terhadap VOC di Batavia pada 1629, Sultan Agung membangun gudang-gudang beras di sepanjang Cirebon-Karawang untuk bekal pasukannya. Hal itu menunjukan perekonomian Kesultanan Mataram sudah maju. Selain dari pertanian, perdagangan, dan pelayaran, kesultanan juga memperoleh pendapatan dari pajak dan upeti. Namun, serangan-serangan itu gagal karena persenjataan Belanda yang melimpah dan lebih maju, pasukan dan persiapan pasukannya belum matang dan juga beliau tidak bekerja sama dengan kerajaan-kerajaan lain khususnya Kesultanan Banten. Beliau terkenal sebagai Sultan Islam yang mempunyai keteguhan hati dan bertakwa, beliau tetap ingin mengusir VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) dari Batavia.
Namun, sebelum cita-citanya terkabul, Sultan Agung wafat pada 1645 Masehi dan dimakamkan di Imogiri. Putra beliau, Amangkurat I (1645-1677) menggantikan beliau. Pada pemerintahan Amangkurat I, terjadi pemberontakan yang dipimpin oleh Trunojaya yang berhasil menduduki ibukota Kesultanan Mataram yang menyebabkan Amangkurat I menyingkir dan meminta bantuan Belanda di Batavia. Pada 1677, ia meninggal di Tegalwangi. Putranya, Amangkurat II dinobatkan sebagai sultan boneka di Batavia yang didukung penuh oleh Belanda.
Kemudian, Sunan Amangkurat II merasa berat atas perjanjian dengan VOC, ia bersekutu dengan Untung Suropati. Kapten Tack memimpin pasukan VOC untuk menggempur pasukan Untung Suropati namun dapat dikalahkan oleh Untung Surapati pada perlawan pertama.
Putra Amangkurat II yaitu Sunan Amangkurat III berseteru dengan pamannya bernama Pangeran Puger yang menginginkan tahta Mataram pada 1703. Pangeran Puger bersekutu dengan VOC untuk menjatuhkan Sunan Amangkurat III. Pangeran Puger bersedia membuat perjanjian dengan VOC dengan ketentuan menyerahkan sebagian wilayah kekuasaan Mataram. Ia kemudian dinobatkan oleh VOC sebagai Sunan di Mataram dengan gelar Sunan Pakubuwono I. Setelah itu, dimulailah peperangan antara Sunan Pakubuwono I dan Untung Surapati yang dibantu oleh Sunan Amangkurat III. Namun, VOC berhasil melumpuhkan kekuasaan Untung Suropati di Kartasura pada 1706 Masehi.
Campur tangan asing terus masuk ke tubuh pemerintahan kesultanan yang dapat mengakibatkan perpecahan wilayah kekuasaan. Kesultanan Mataram terpecah menjadi 2 yaitu Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat (Kesultanan Yogyakarta) dan Kesunanan Surakarta Hadiningrat karena Perjanjian Giyanti (13 Februari 1755) yang diwakili oleh Sunan Pakubuwana III (memerintah dari tahun 1749 sampai 1788) yang sangat tunduk pada Belanda. Perjanjian Giyanti (berlokasi di Dukuh Kerten, Desa Jantiharji, tenggara Kota Karanganyar, Jawa Tengah) secara de faco dan de jure mengakhiri Kesultanan Mataram yang sepenuhnya merdeka dan mandiri.
Perjanjian Salatiga (17 Maret 1757) ditandatangani oleh Raden Mas Said (Pangeran Sambernyawa), Sunan Pakubuwana III, VOC (berdiri pada tahun 1602 sampai tahun 1800), dan Sultan Hamengku Buwono I (Pangeran Mangkubumi) di gedung VOC (sekarang digunakan sebagai kantor Walikota Kota Salatiga) yang menyebabkan Kesunanan Surakarta Hadiningrat pecah menjadi Kesunanan Surakarta Hadiningrat dan Mangkunegaran (Sultan pertamannya adalah Mas Said atau Pangeran Sambernyawa yang bergelar Mangkunegara I). Pada 1813, Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat pecah menjadi Pakualam dan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.
Sesungguhnya, Belanda sebagai salah satu bangsa penjajah di muka bumi tak akan mampu menaklukan Kesultanan Mataram atau kesultanan-kesultanan lain kecuali memecahbelah persatuan dan kesatuan pemeritahan dan rakyat namun para penguasa kesultanan dapat tertipu akal licik Belanda dengan menjanjikan tahta pada orang-orang yang mau membantunya. Dan juga para penguasa yang haus kekuasaan rela bersekutu dengan penjajah meski akan memiliki kekuasaan tak berdaulat lagi sehingga Belanda dapat menjajah Nusantara dalam beberapa abad. Ironis memang tapi inilah fakta sejarah yang harus kita ambil hikmahnya sebagai pelajaran yang baik.
menarik, bermanfaat

1 komentar:

Silakan Anda mengirim kritik, saran, atau pertanyaan ke :

* Nomor ponsel saya : 085716860717 dan 083824096980
*E-mail saya : Adiselamet01@gmail.com
*Akun facebook saya : Facebook.com/ayakinbisa

Syarat dan ketentuan berkomentar :
1. Dilarang menghina siapa pun
2. Dilarang berkomentar sampah. Contoh : Promosi produk
3. Jangan menggunakan link hidup
Maaf bila saya belum bisa membalas komentar atau mengunjungi situs Anda. Terima kasih atas kunjungan atau komentar Anda di blog sederhana ini. Salam untuk Anda...