Saturday, 31 December 2016

6 Ciri Wahabi

Penulis : Adi Selamet
Terbit : 31 Desember 2016

 Sumber Gambar : alkhoirot.com


Wahabi adalah para pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab at Tamimi an Najd (1701-1794) yang gemar mengaku paling taat beragama dengan slogan "Memurnikan Aqidah, Tegakkan Sunnah". Tapi dari awal kemunculannya, Kaum Wahabi justru suka mengkafirkan dan membunuh banyak Muslim. Pada abad ke-18 dan 19 misalnya, mereka mengkafirkan dan membantai ribuan Muslim di Kota Suci Mekah dan Madinah, juga Jeddah dan Thaif. Mereka melakukan demikian berdasarkan kerjasama dengan Muhammad bin Saud si pendiri Dinasti Saud yang dibantu oleh Inggris.

Hal ini membuat Kekhalifahan Utsmaniyah (1517-1924) berang dan membasmi mereka. Namun setelah Negara Islam terkuat ini runtuh karena Perang Dunia I (1914-1918), Kaum Wahabi dan Dinasti Saudi pimpinan Raja Abdul Aziz al Saud berkuasa di Semenanjung Arab atas restu Inggris.

Di zaman sekarang ini, Kaum Wahabi yang mendapat dana besar dari Kerajaan Arab Saudi tetap memperkeruh kehidupan Umat Islam. Di Timur Tengah dan Afrika juga Asia Selatan, Kaum Khswarij ini sukses mempersulit kehidupan Umat Islam dengan aksi terorisme mereka. Di Indonesia, mereka gemar mempermasalahkan perbedaan madzab misalnya mempermasalahkan doa Qunut dalam Shalat Subuh.

Selain itu, mereka seenaknya menabur benih perpecahan dan fitnah agar Indonesia hancur seperti yang mereka lakukan terhadap Suriah, Libya, Afghanistan, Irak, dan lainnya. Jika tidak ada Wahabi atau minimal, Wahabi tak menyebarkan fitnah, tentu Israel sudah lama runtuh tak bersisa. Untuk membersihkan namanya,Kaum Wahabi menamakan diri mereka sebagai Salafy atas saran Nashruddin Albani, ulama ahlul hadast.

Agar kita tahu Wahabi, maka saya share ciri-ciri mereka berdasarkan kitab para ulama Wahabi sendiri.

Setidaknya ada beberapa perkara atau ciri-ciri (atau bisa lebih) yang mana apabila terdapat pada diri seseorang maka tidak diragukan lagi sebagai pengikut Wahabi. Berikut ciri-cirinya.

1. Bukan semua individu yang meninggalkan bacaan Qunut itu dikira sebagai Wahabi, tetapi siapa saja yang menyerupakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan makhlukNya dan mensifatkanNya dengan anggota maka tidak diragukan lagi ia adalah Wahabi. (Lihat: Kitab Tanbihat Fi Rad Ala Man Tawwala al-Sifaat, Karangan Ibn Baz, terbitan Riasah ‘Ammah Lilifta’, Riyad, hlm 19).

2. Bukan semua individu yang meninggalkan Shalat Sunnah Qabliyyah sebelum Jum’at itu dikira sebagai Wahabi, tetapi siapa saja yang mengkafirkan al-Asy’ariyyah dan al-Maturidiyyah serta menghalalkan darah mereka itu maka tidak diragukan lagi ia adalah Wahabi. (Lihat: Kitab Min Masyahir al-Mujaddidin Fi Islam, terbitan Riasah ‘Ammah Lilifta’, Riyadh, hlm 32. Kitab Fathul Majid karangan Abdul Rahman, terbitan Maktabah Darul Salam Riyadh, hlm 353. Kitab Manhaj Asya’irah fil Aqidah, karangan Dr Safar al-Hawali, hlm 5, 16 dan 29. Kitab Lal-Maturidiyyah Wamauqifuhum Minal Asma’ Wa Sifaat, karangan Syamsul Salafi al-Afghani, 10,11 dan 44. Kitab al-Tauhid, terbitan tahun 1423 H, hlm 66-67, dimana ulama Wahabi Soleh Fauzan al Wahhabi berkata: فهؤلاء المشركون هم سلف الجهمية والمعتزلة والأشاعرة “Maka golongan musyrik tersebut adalah salaf firqah al-Jahmiyyah, al-Muktazilah dan al-Asya’irah (Asy’ariyyah)”.

3. Bukan semua individu yang tidak mengumandangkan adzan sebanyak 2 kali pada hari Jum’at itu dikira sebagai Wahabi, tetapi siapa saja yang mengkafirkan umat Islam yang bertawassul dengan Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam dan menghalalkan darah serta harta mereka maka tidak diragukan lagi ia adalah Wahabi. (Lihat: Kitab al-Tauhid karangan Shaleh Fauzan, hlm 70).

4. Bukan semua individu yang meninggalkan majelis Tahlil (Tahlilan) kepada si mayyit itu dikira sebagai Wahabi, tetapi siapa saja yang mensifati Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan duduk bersemayam, menetap, bergerak, dan berpindah-randah maka tidak diragukan lagi ia adalah Wahabi. (Lihat: Kitab Fathul Majid, karangan Abdul Rahman bin Hasan bin Muhammad bin Abdul Wahhab, cetakan Darul Salam, Riyadh, hlm 356. Kitab Fatawa Aqidah, karangan Ibn al-Utsaimin, hlm 742).

5. Bukan semua individu yang mendakwa dan mendengungkan dia mengikut al-Quran dan as-Sunnah itu dikira sebagai Wahabi, tetapi siapa saja yang mengkafirkan orang yang mengikut mazhab-mazhab yang muktabar (seperti madzhab Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Hanbali), menghalalkan darah mereka serta menganggap taqlid kepada imam-imam mazhab itu adalah syirik maka tidak diragukan lagi ia adalah Wahabi. (Lihat: Kitab al-Din al-Khalish, karangan al-Qanuji, jilid 1 hlm 140 dikatakan: تقليد المذاهب من الشرك “Mengikut mazhab-mazhab yang muktabar adalah syirik”. Dengan ini, mereka telah mengkafirkan mayoritas umat Islam di seluruh dunia pada hari ini dan umat Islam sebelumya yang beramal dan bertaklid kepada mazhab-mazhab yang empat).
6. Bukan semua individu yang membayar zakat Fitrah dengan mengeluarkan bahan makanan seperti beras itu Wahabi, tetapi siapa saja yang melarang atau mengharamkan perjalanan dengan tujuan untuk menziarahi maqam Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam itu maka tidak diragukan lagi ia adalah Wahabi. (Lihat: Kitab Tahqiq Wal Idhoh Likathir Min Masail al-Haj Wa al-‘Umrah, hlm 88, 89, 90,dan 98).

Bukan semua individu yang meninggalkan ucapan Sayyidina “سيدنا” ketika bersholawat kepada Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam itu dikira sebagai Wahabi, tetapi siapa saja yang mengharamkan majelis Maulid Nabi dan mengkafirkan pelakunya maka tidak diragukan lagi ia adalah Wahabi. (Llihat: Kitab al-Tauhid, karangan Shaleh bin Fauzan, Riyadh, hlm 166 dan 120)